Options:

HoRe…HoRe…HoRe Semester 2

Alhamdulillah yah akhirnya di bulan Oktober ini bisa masuk di semester ke-2. Kesan pertama adalah serba cangung, karena love

HoRe AKiKAh KuLiAh S2

Awalnya niat kuliah S2 sudah ada sejak 5 tahun yang lalu, namun selalu tertunda karena uang dan waktu. Tahun ini atau bulan Maret 2011 diusiaku yang ke-42, aku niatkan dengan keras bahwa aku harus kuliah. Uang tak ada hanya niat saja memang tidak bisa. Sudin dimenti Jakarta Utara membuka peluang untuk aku kuliah. Mulanya mereka yang mengurus tapi karena peminatnya tidak mencapai maka kuliah dialihkan ke pusat atau ke Universitas Indraprasta. Aku sih memilih Unindra sebagai tempat kuliah lebih karena biaya yang ditawarkan murah cukuplah untuk kantongku. Apalagi tidak ada subsidi dari suami,jangankan subsidi yang tentu saja membongkar isi dompetnya dorongan semangat saja tak aku dapatkan. Bismillah sajalah semoga apa yang aku cita-citakan tercapai dengan motivasi yang aku dapatkan dari ayah dan ibuku.
Tepat tanggal 19 Maret aku mulai kuliah walau sudah ada rintangan menghadang. Karena terlambat dari jadwal perkuliahan aku tidak diterima. Harus lapor sana lapor sini, untungnya ada seseorang yang mau membantu dan dengan kerelaannya mengantarku untuk mendaftar ke Unindra di Tanjung Barat. Untuk yang satu ini aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga semoga amalnya dibalas Tuhan. Bahkan hari pertama kuliah karena aku tidak tahu tempat kuliahnya ia pun rela pagi-pagi mengantarku ke tempat kuliah yang terletak di daerah Pasar Minggu.
Hari itu Sabtu, 19 Maret 2011, masih pagi kelas yang aku masuki sudah banyak mahasiswa. Sambil menyalami aku kenalkan namaku pada mereka. Rata-rata memang sudah berumur hanya ada beberapa yang belum berkeluarga. Pada dasarnya aku mudah hapal nama orang jadi mahasiswa yang berjumlah 20 orang aku sudah hapal. Hanya ada beberapa yang tidak masuk sehingga wajahnya belum aku ingat.
Kuliah hari pertama bukan di kampus UNINDRA pusat tapi masih nebeng di SD Yasporbi di daerah Pasar Minggu. Menuju ke tempat kuliah harus ngojek. Mata kuliah pertama Landasan Pendidikan dosen yang mengajar Profesor T.Zahara seorang professor pendidikan yang mumpuni dan gemar berbicara. Jangan memotong pembicaraanya nanti Anda akan kena semprotnya. Untuk bertanya saja rasanya tak perlu karena ia akan melebarkan pertanyaan itu pada hal yang tak perlu.tapi aku salut dan angkat topi, diusia yang tidak muda lagi beliau masih fasih mentransfer informasi dan memberi kuliah dengan semangat. Jadi malu sendiri bila aku mengajar sudah loyo duluan.
Dosen kedua seorang pemikir alias dosen Filsafat Ilmu. Hari itu sang ketua kelas pak Dardji mempresentasikan tugas kuliahnya. Untuk sang ketua kelas aku juga salut dalam tempo satu minggu ia sudah dapat melaksanakan tugas kuliah dengan baik, secara umur pak dardji ini tidak muda lagi usianya 61 tahun. Aku kagum pada pak Dardji semangat yang tak pernah hilang untuk mengejar ilmu.
Mata kuliah ketiga ini mata kuliah khusus program bahasa Indonesia “Linguistik”, sang dosen yang menggunakan topi ala pak Tino Sidin dengan gamblang memberikan bahan kuliah Linguistik dengan gaya seniman tulen. Agak narcis sih tapi bagus kok.
Mata kuliah keempat adalah mata kuliah gabungan, dari tiga program studi IPS,Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris digabung menjadi satu untuk kuliah “Statistik” sang penganjar ‘Sang Rektor UNIDRA Prof Sumaryoto’. Dulu saja waktu aku kuliah S1 mata kuliah ini paling sebel banget. Harus hapal rumus menghitung dll. Apalagi diajarkan secara klasikal makin pusing saja. Udara yang panas makin panas, sesak ruangan karena harus diisi oleh 70 orang. Idealnya mata kuliah yang sulit tidak diajarkan secara klasikal agar jelas.
Untungnya di tengah kantuk dan kepenatan, mata kuliah terakhir adalah mata kuliah favoritku “Teori Sastra”. Untuk mata kuliah ini jangan sampai deh ngantuk karena mata kuliah ini aku paling suka. DR. Juniar sang dosen ternyata pelaku sejarah ‘Sastra Rawamangun’. Interaksi intern aku lakukan karena sastra adalah ’sesuatu’ yang indah. Walau hari pertama kuliah belum bisa aku ikuti mau dibawa kemana arahnya namun aku bisa merasakan bahwa sastra itu indah.Teman kuliahku yang berasal dari beragam daerah dan tempat tinggal, namun hampir 90% guru hanya ada tiga orang yang dosen yaitu Pak Dardi sang KM, Retna dan Randy pengajar di UNINDRA.
Hari Minggu dengan diantar suami aku mencari buku-buku referensi yang akan kupakai untuk kuliah. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar semua berjalan lancar.

KISAH SEDIH DI HARI SABTU

aq1

Kuliah semester kedua di UNINDRA terasa panas dan membara. Rasanya memang masih ganjel nih hati sakit baget mengingat nilai-nilai yang kuperoleh. Kalau seandainya fair sih ga apa-apalah. Mungkin karena aku merasa semester pertama aku membuka dengan semangat dan aku yakin aku bisa melewati dengan baik bila dibandingkan dengan rekan yang lain.

Ternyata semangat saja tidak bisa menjamin nilai yang diperoleh, buktinya rekanku yang aku yakin ia tidak bisa apa-apa dan banyak ijin nilainya lebih dariku (hbahkan setiap UTS dan US selalu melihat teman)

Sabtu, 8 Oktober 2011, hari pertama kuliah di semester kedua dan di kampus Ranco jalan Nangka. Berangkat dari rumah pukul 05.30 dengan si Moni. Bapagkku tercinta sudah siap dengan fisiknya mengantar aku ke ujung aspal jalan. Naik KWK 01 ankutan umum kecil itu meluncur ke Priuk aku sudah ditunggu busway. Maunya Busway juga seperti aku cepat namun karena harus menunggu dan berganti koridor sampai Psr Rebo pukul 07.00 WIB. Angkot selanjutnya yang membawa diriku KWK 19 jurusan Depok dan turun di Ranco. Kuliah di lantai 4 alamak lifnya belum kelar pembangunannya. Dengkul rasanya mau copot, setiap anak tangga yang aku lewati berasa jeritan tulang-tulang yang mulai menua.

Di kelas baru ada dua manusia pak Khairudin dan si gadis Christine. Baru kali ini suasana kuliah terasa panas. Bukan karena tak ada AC, namun karena suasana hati yang galau. Aku tak banyak bicara karena toh bicara atau diam tak mempengaruhi nilai yang sudah aku peroleh. Hanya saja kali ini kalau aku menatap atau berbicara dengan wonder women yang mendapat IP paling tinggi di kelas terasa mangkel.

Tadinya sudah patah semangat dan patah arang, tapi yah mau apalagi terima sajalah nasib di semester pertama. Langkah menuju sukses memang pahit semoga di semester ini lebih objektif dan adil.

UJIAN SEMESTER DI PASCA SARJANA

Do not ever feel that something is wrong with it was unfortunate that we still always be thankful to say sorry
Ini ceritaku masih di UNINDRA dalam rangka kuliah Pasca Sarjanaku. Setelah 3 bulan waktunya Ujian Tengah Semester. Jadwalnya sih hari Jumat dan hari Sabtu tanggal 20 dan 21 Mei 2011. Terpaksalah hari Jumat bolos mengajar demi kuliah. Mulanya deg-degan karena baru pertama mau ujian di Pasca Sarjana. Waktu kuliah S1 perasaan tidak seperti ini biasa saja, mungkin masih jiwa muda kali ada sisi berontak biasalah “Mencontek”. Nah kalo Pasca Sarjana juga budaya mencontek jalan terus bisa berabe urusannya.
Kalau dulu kuliah S1 dengan motivasi mencari nilai terbaik dan paling baik di kelas untuk modal melamar pekerjaan (katanya IP tinggi mulus cari kerja). Nah untuk kuliah Pasca Sarjana ini, motivasiku sudah berbeda. Bukan nilai yang jadi tujuan utama, karena aku tidak perlu nilai yang tinggi atau terbaik, buat apa??? Kalau mau tambah golongan ruang gaji yah ndak mungkinlah. Atau mau mejeng ? lah kemana mau dipejeng tuh ijazah kan aku dah PNS. Tujuanku hanya menambah ilmu , wawasan dan pola pikir yang lebih dewasa. Maka ketika semua rekan-rekanku sibuk saling menyapa tulisan rekan yang lain dengan JJS ke semua bangku, aku tetap di posisi dudukku saja. Bukan menunggu tapi lebih sekadar menyadari kalau jawabanku yang aku punya hanya itu, artinya wawasanku, isi kepala selama mengikuti perkulihan yah hanya segitu. Harus instrospeksi kalau nilanya pas yah itu punyaku bukan punya orang lain.
UJIAN SEMESTER DAN UJIAN PENGENDALI MUTU
Sabtu 10 dan 16 Juli 2011
Ujian ini benar-benar ambruk deh, mana sehari sebelumnya aku sakit yang sungguh menghantam. Setelah seminggu penerimaan siswa baru aku sibuk mengurusi kepentingan rakyat dengan mengatasnamakan koperasi (harus belanja, transaksi barang bahkan mengurus pembangunan gedung baru koperasi juga tukang bangunan), maka Ujian Semester ini benar-benar membuatku tidak percaya diri. Mulanya ingin bertanya, mencontek pada rekanku (aku selalu duduk di depan). Namun, aku malu dengan hati ini, masa kuliah Pasca Sarjana masih tergantung dengan jawaban orang lain APA KATA DUNIA.
Makin tidak PDnya ketika Ujian Pengendali Mutu hari Sabtu 16 Juli 2011,kali ini mata kuliah yang di UPM kan adalah Statistik pada pukul 08.00 WIB dan Linguistik pukul 11.00 WIB. Rekan yang biasanya selalu duduk bersama bila kuliah (sudah aku siapkan duduk di sebelahku di meja depan), ternyata dari sorot mata dan wajahnya menyiratkan enggan duduk denganku. Rasanya kepercayaan yang sudah aku bawa dan bangun dari rumah semakin menipis. Tadinya aku yakin dia seide denganku bahwa apapun yang kita hasilkan adalah apa yang kita terima di bangku kuliah. Namun, hari itu aku merasa menjadi orang yang terpuruk dan seakan aku sombong dengan diriku. Sementara rekan yang lain saling menyalin pekerjaan teman, aku sendiri yang tetap di tempatku asyik dengan jawaban yang terus terang aku tidak yakin.
Baru kali ini aku mengalami ujian yang aku sendiri tidak yakin dengan jawabanku. Setelah Ujian Semester dan Ujian Pengendali Mutu (UPM) aku masih tidak percaya kok aku bisa tidak percaya diri begitu. Pulang UPM suami tercinta sengaja aku telepon untuk menejmputku, karena rasanya tubuh ini mati rasa, lidah ini kelu, pikiran menjadi buntu. KOK BISA AKU KALI INI TIDAK PERCAYA DENGAN DIRIKU SENDIRI??? Rekan-rekan lain pulang dengan sejuta makna keriangan terlihat dari celotehan dan wajah mereka. Apalagi ketika aku lihat rekanku Mr D mengatakan “ujian kali ini secara nalar mudah kok” aku makin merasa miskin saja. Miskin teman dan miskin kepercayaan.
Ujian sudah berakhir waktunya liburan, namun bayang-bayang nilai yang kuterima semakin membuatku selalu malas. Sepertinya aku harus instrospeksi diri selalu membaca mau menerima dan yang pasti aku kurang bersyukur.

KULIAH S2 DI UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

Awalnya niat kuliah S2 sudah ada sejak 5 tahun yang lalu, namun selalu tertunda karena uang dan waktu. Tahun ini atau bulan Maret 2011 diusiaku yang ke-42, aku niatkan dengan keras bahwa aku harus kuliah. Uang tak ada hanya niat saja memang tidak bisa. Sudin dimenti Jakarta Utara membuka peluang untuk aku kuliah. Mulanya mereka yang mengurus tapi karena peminatnya tidak mencapai maka kuliah dialihkan ke pusat atau ke Universitas Indraprasta. Aku sih memilih Unindra sebagai tempat kuliah lebih karena biaya yang ditawarkan murah cukuplah untuk kantongku. Apalagi tidak ada subsidi dari suami,jangankan subsidi yang tentu saja membongkar isi dompetnya dorongan semangat saja tak aku dapatkan. Bismillah sajalah semoga apa yang aku cita-citakan tercapai dengan motivasi yang aku dapatkan dari ayah dan ibuku.
Tepat tanggal 19 Maret aku mulai kuliah walau sudah ada rintangan menghadang. Karena terlambat dari jadwal perkuliahan aku tidak diterima. Harus lapor sana lapor sini, untungnya ada seseorang yang mau membantu dan dengan kerelaannya mengantarku untuk mendaftar ke Unindra di Tanjung Barat. Untuk yang satu ini aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga semoga amalnya dibalas Tuhan. Bahkan hari pertama kuliah karena aku tidak tahu tempat kuliahnya ia pun rela pagi-pagi mengantarku ke tempat kuliah yang terletak di daerah Pasar Minggu.
Hari itu Sabtu, 19 Maret 2011, masih pagi kelas yang aku masuki sudah banyak mahasiswa. Sambil menyalami aku kenalkan namaku pada mereka. Rata-rata memang sudah berumur hanya ada beberapa yang belum berkeluarga. Pada dasarnya aku mudah hapal nama orang jadi mahasiswa yang berjumlah 20 orang aku sudah hapal. Hanya ada beberapa yang tidak masuk sehingga wajahnya belum aku ingat.
Mata kuliah pertama Landasan Pendidikan dosen yang mengajar Profesor T.Zahara seorang professor pendidikan yang mumpuni dan gemar berbicara. Jangan memotong pembicaraanya nanti Anda akan kena semprotnya. Untuk bertanya saja rasanya tak perlu karena ia akan melebarkan pertanyaan itu pada hal yang tak perlu.tapi aku salut dan angkat topi, diusia yang tidak muda lagi beliau masih fasih mentransfer informasi dan memberi kuliah dengan semangat. Jadi malu sendiri bila aku mengajar sudah loyo duluan.
Dosen kedua seorang pemikir alias dosen Filsafat Ilmu. Hari itu sang ketua kelas pak Dardji mempresentasikan tugas kuliahnya. Untuk sang ketua kelas aku juga salut dalam tempo satu minggu ia sudah dapat melaksanakan tugas kuliah dengan baik, secara umur pak dardji ini tidak muda lagi usianya 61 tahun. Aku kagum pada pak Dardji semangat yang tak pernah hilang untuk mengejar ilmu.
Mata kuliah ketiga ini mata kuliah khusus program bahasa Indonesia “Linguistik”, sang dosen yang menggunakan topi ala pak Tino Sidin dengan gamblang memberikan bahan kuliah Linguistik dengan gaya seniman tulen. Agak narcis sih tapi bagus kok.
Mata kuliah keempat adalah mata kuliah gabungan, dari tiga program studi IPS,Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris digabung menjadi satu untuk kuliah “Statistik”. Dulu saja waktu aku kuliah S1 mata kuliah ini paling sebel banget. Harus hapal rumus menghitung dll. Apalagi diajarkan secara klasikal makin pusing saja. Udara yang panas makin panas, sesak ruangan karena harus diisi oleh 70 orang. Idealnya mata kuliah yang sulit tidak diajarkan secara klasikal agar jelas.
Untungnya di tengah kantuk dan kepenatan, mata kuliah terakhir adalah mata kuliah favoritku “Teori Sastra”. Untuk mata kuliah ini jangan sampai deh ngantuk karena mata kuliah ini aku paling suka. Walau hari pertama kuliah belum bisa aku ikuti mau dibawa kemana arahnya namun aku bisa merasakan bahwa sastra itu indah.
Hari Minggu dengan diantar suami aku mencari buku-buku referensi yang akan kupakai untuk kuliah. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar semua berjalan lancar.

My Born DaY

Alhamdulillah usiaku kini bertambah satu tahun 42 tahun tepatnya. Banyak cerita, suka maupun duka yang mengiringi pertambahan usiaku. Hari Rabu kebetulan suami jadwal pulang, rumah masih berantakan tukang masih kerja walaupun sudah pukul 23 malam. Pemasangan plafon gipsum biar keren katanya. Lelah tapi aku senang karena bisa mempercantik rumah dengan cantik walaupun selera berbeda dengan sang suami.
HP suamiku bergetar tepat pukul 24.00 WIB mulanya ia ngomel karena tengah malam ada yang menelpon. Ketika melihat isi HP ia tersentak dan langsung memelukku. Kecupan hangat mendarat di pipi, kening dan bibirku. ah rasanya seperti masa lalu ketika benih-benih cinta menabar di relung hati kami. Cukup membahagiakan kalimat ulang tahun yang diucapkan orang terkasih. Semoga kami bisa menempuhnya hingga maut menjemput, walau kadang ada dosa karena pernah ada dusta di hari-hariku menemaninya.
42 tahun bukan usia yang muda lagi, kadang masih ingin seperti dulu mengejar mimpi, berpetualang, berlari menembus batas impian. Namun, kala kelelahan menerpa kita jadi ingat akan usia yang tak muda lagi.Begitu banyak impian yang belum terwujud, begitu banyak harapan yang belum tergapai aku hanya berdoa semoga Allah SWT memberi kemudahan di tubuh yang berlumur dosa ini, dekatNya aku memohon agar aku selalu diberi kesabaran dan hidayahNya.
Senja menapak Asa

kala hari tak sama lagi
aku ingin terbang bersama kupu-kupu
lincah mengepakkan sayap
indah berwarna-warni

kala usia tak lagi muda
aku mau semua menoleh padaku
menebarkan senyum walau kesat
menjaring asa yang tak berharap

kala waktu tak lagi melambat
aku suka berlari menembus matahari
mengenggamnya dalam tangan walau panas menerpa
menaruhnya di sela-sela jari

kala impian bukan lagi harapan
aku harap ada yang menarikku, membawaku, menuntunku
untuk selalu dekat dengaNYa

WORKSHOP MENULIS WITH IGI & YUDHISTIRA ANM MASSARDI

Menulis itu Sexi

Pengalaman ini bukan hanya mengesankan tapi juga mengembirakan. “Workshop Menulis”? ketika mengajak seorang teman untuk ikut workshop apa katanya. “Kamu pintar menulis guru bahasa Indonesia pula, ngapain ikut workshop menulis? Pertanyaan itulah yang membuat hati saya sedih. apalagi ditambah perkataan seorang rekan “dapat sertifikat yah?” rasanya bukan ilmu yang didapat hanya sehelai sertifikat saja.
Pelatihan yang selalu saya ikuti bukan karena sertifikat, lebih karena ilmu saya yang harus terus saya kembangkan. Bukan hanya untuk saya tapi untuk anak didik saya yang dititipkan pada saya untuk dididik. Pelatihan kali ini memang banyak rintangan, mulai dari waktu yang harus merelakan hari libur Sabtu dan Minggu, juga tempat pelatihan yang jauh di Depdiknas Sudirman.
Hari itu 5 Februari 2011 masih pagi setelah memberikan tugas untuk anak Teater, aku bergegas naik angkot menuju Tanjung Priuk. Rencana tadi mau naik Bus 89 jurusan Blok Ma, namun tergoda untuk naik Busway koridor baru. Susana BusWay yang nyaman sudah membuat panas. pasalnya ternyata aku harus transit 2 Bus Way lagi. alamak terbayang panjangnya jembatan yang akan aku lewati. Dua kali transit yang pertama di Pramuka PKP dengan jarak hampir 1 Km menuju bus selanjutnya. Setelah itu turun di Dukuh atas jaraknya juga 1.5 Km. waduh makin mengkel deh betis. Perjuangan belum berakhir turun di Senayan masih jalan lagi 1 Km untuk keluar dari shleter Busway.
Tepat pukul 10 sampailah aku di gedung C Depdiknas. Sudah banyak peserta bahkan narasumber sastrawan dan wartawan Mas Yudhistira ANM Massardi sudah datang. Jadi malu hati nih.Pukul 10 tepat Mba Puti yang imut-imut dan smart sebagai perwakilan IGI membuka Workshop dengan suaranya yang lembut dan mantap (kaya kopi aja). Narasumber utama “Sang Arjuna”, Mas Yudhistira memulai season pertama dengan penuh semangat menjelaskan deskripsi.
Wah peserta yang berjumlah 15 orang terlihat antusias ketika diberi tugas oleh Mas Yudhis untuk menceritakan tempat tinggalnya. Beragam tulisan dihasilkan peserta terbayang mudahnya bercerita ternyata susah untuk menuangkan dalam kata-kata yang indah. Kalau aku kagum dengan Mba Puti sepanjang materi diberikan Mba yang satu ini cepat sekali menulis. pPenasaran sih apa yang dia tulis.
Hari kedua atau Minggu 6 Februari 2011 walau berat rasa hati karena harus merelakan hari libur bersama suami yang hanya bertemu kami di hari Sabtu dan Minggu harus aku lepas. Apalagi hari ini ulang tahun ayahku.Suami tercinta dan anakku Asha mengantar ke Senayan katanya mereka akan ke Mall Kelapa Gading. Hari kedua setelah menebar senyum ke semua peserta pelatihan aku sengaja duduk dekat Mba Puti, Mau tahu dia menulis apa sih? Luar biasa ternyata gadis imut ini menulis semua pembicaraan dari narasumber dan peserta pelatihan. Cepat banget menulisnya, aku kagum dengan daya simaknya yang ruarrrrrrrrrrrrr biasa, mungkin aku aja tidak bisa menyimak seperti dia. Hari ini materinya menulis cerpen. Ada beberapa peserta yang sudah selesai cerpenya dan dpersilakan untuk membacakan. Ada 5 peserta yang membacakan hasil karyanya, termasuk aku. Enaknya Mas Yudhis langsung membahas dan memberi komentar yang menyehatkan dengan tulisan peserta.
Semangat menulis karena asupan gizi menulis yang diberikan Mas Yudhis membuat saya tambah sehat untuk menulis. Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul 15 acara pelathan di hari kedua berakhir dengan kesan yang dalam.Ada PR dari Mas Yudhis untuk menulis artikel.

CERPEN LATIHAN

SATU “KLIK’”DAMAI SEMUA

My Head , My Life

Luka di tangan dan bergeser engsel di pergelangan tanda sudah cukup jadi pengalaman betapa berharganya sebuah Klik helm. Ceritanya karena jarak antara tempat kerja dengan rumah dekat, saya menggunakan motor sebagai transportasi, selain hemat juga cepat. Namun, jalan menuju rumah dan tempat kerja dilalui oleh para “Dinosaurus” kendaraan besar-besar (julukan kontener yang diberikan anakku). Jadi para pengendara harus ekstra hati-hati. Apalagi setiap hari jenis kendaraan itu yang selalu mengiringi sisi kiri dan kanan motorku.
Malah berdasarkan data yang ada karena hanya menyenggol kontener sedikit fatal akibatnya kecelakaan lalu-lintas tak terelakkan. Sudah banyak kejadian kecelakaan lalu-lintas di daerah saya yang diakibatkan oleh kontener. Mulai dari siswa sekolah yang menumpang kontener alias BM, turun dengan melompat, akibatnya kontener di belakang tak cepat mengerem kecelakaan lalu-lintas pun terjadi. Atau pengendara motor yang hanya memakai helm proyek bukan helm SNI, helm terlempar kontenerpun melindas sedekat apapun jarak yang ditempuh kalau sekeliling kita kendaraan kontener safety riding sangat perlu sehingga kecelakaan lalu-lintas dapat dihindari.
Hari itu sore bulan Desember 2010 di penghujung tahun. ketika pulang dari tempat kerja saya selalu melewati perempatan jalan yang membelah kawasan berikat nusantara atau KBN Marunda, arus kendaraan kata penyiar radio sih “ramai lancar”. Arah menuju rumah ke timur dan harus melalui sebuah jembatan yang sudah tentu para ‘Dinosaurus’ sudah setor muka di jalan, ketika melaju dengan tenang dan damai (kaya situasi politik aja), melewati perempatan jalan masuk KBN Marunda di tengah perempatan itu, sebuah kendaraan sepeda motor melaju dengan kecepatan lumayan kencang melaju dari arah selatan (saya dari barat) atau di depan pintu gerbang masuk KBN jadi kami bersimpangan, terjadilah tabrakan. Saya pun terlempar cukup jauh dari motor kira-kira 100 M. Yang saya ingat adalah melindungi kepala (maunya sih safety riding), dengan menutupi kepala menggunakan kedua tangan saya. Tangan saya terluka, persendian di pergelangan tangan bergeser. Untunglah ternyata saya memakai helm…he..he..he, lupa kalo helm adalah safety riding malah jadi make up saya kalau berkendaraan, (coba kalau saat itu helm tidak terklik di kepala saya bukan hanya patah tangan tapi patah kepala kali yah…!). Hanya saja karena panik yang saya ingat, kepala saya nih harus dilindungi. Perkiraan saya tidak apa-apa tangan patah asal kepala aman.
Sekarang saya jadi mengerti harga sebuah “Klik” di kepala mendamaikan semua safety riding untuk diri sendiri dan semua. Hati jadi damai berkendara jadi aman. Walau jarak yang kita tempuh hanya sekejab mata.Bukan karena ada Polantas tapi karena Klik Helm membuat Tuntas….tas…tas. Damai di hati aman di jalan.

4 DIMENSI & 3 DIMENSI DI TMII

Awalnya karena keponakanku Ilham ngambek atau marah karena ketika kami berlibur di Waterboom Cikarang tidak diperkenankan menonton 4 dimensi yang ada disana harga karcis terbilang murah Rp 15.000. Akhirnya kami berjanji akan mengajaknya ke 4 dimensi yang lain, setelah browsing di internet pilihan jatuh ke TMII. Tadinya kami pikir seru kali menonton 4 dimensi di salah satu tempat wisata sebesar TMII daripada di Waterboom. Ternyata harapan tersebut pupus setelah mobil memasuki areal parkir 4 Dimensi yang terletak bersebalahan dengan ajungan Bengkulu. Tempat parkir yang sepi begitu pula loket pembelian karcis. Pertunjukan akan dimulai tepat pukul 13.00 untung belum terlambat walau rencana akan makan dulu sebelum nonton. Harga karcis memang terjangkau Rp 20.000 untuk satu orang, memasukui ruangan yang tidak begitu besar sudah ada 2 keluarga sehingga dalam ruangan tersebut ada 12 jiwa yang akan berpetualang menonton 4 dimensi, walaupun 7 orang keluarga kami cukuplah sensasinya walau tak ada rasa dingin AC seperti di bioskop 21. Pertunjukan 4 dimensi kali ini tentang petualangan seekor ikan yang akan mengantarkan kado ulang tahun untuk neneknya. Walau tak sama percis dengan yang ada di 4 dimensi Taman Impian Jaya Ancol, namun sensasi dan serunya tak ada yang terasa hanya ikan-ikan yang berenang menuju kami dan air yang sengaja dicipratkan ke badan kami sehingga ketika ikan-ikan itu berenang seolah-olah air itu menyiram kami juga. Kalau untuk anak usia 2 – 9 tahun sensasi tersebut cukup kena. Karena anggota keluarga yang kami bawa tak ada yang usia segitu (paling kecil Ilham yang berusia 10 tahun) maka terasa biasa saja. Apalagi kata keponakanku Ilham “ Kok ga ada goyang-goyangnya sih?”.
Karena tak puas dengan pertunjukan di 4 dimensi, setelah mencari tempat untuk makan siang, kami sekeluarga memutuskan ke 3 dimensi Keong Mas. Suasana ramai karena ada rombongan mulai terasa di pembelian tiket, agak rugi juga sih karena di gerbang tiket ada diskon untuk pemegang kartu dari Honda (besarnya 15 %). Masuk gedung pertunjukkan sudah berdesakan, tak sabar kali yah ternyata mereka berebut mencari tempat yang nyaman unruk menonton. Beruntung kami ber 7 dapat tempat yang nyaman. Pertunjukkan kali ini tentang T Rex, kisah diawali oleh seorang gadis bernama Elly yang menjadi guide di musium prasejarah makhluk purba. Petualangan dimulai ektika ayah si gadis menemukan sebuah benda bulat lonjong mirip telur. Karena kecerobohan si gadis telur tersebut terjatuh dan retak. Dari retakan tersebut keluar asap berwarna coklat yang membungkus si gadis Elly. Akibat asap Elly bisa berpetualang ke zaman purba.
Tidak ada yang luar biasa sih hanya kita sedikit pening akibat film yang secara sengaja merekam gambar seolah-olah berkelok, berputar sehingga mata kita ikut pening menyaksikan. Ternyata beda 4 dimensi dan 3 dimensi adalah dari MATA…

GURU GALAK…PASTI DIKENANG!!!

Sekolah adalah tempat yang indah untuk memulai dan berinteraksi sosial. Selain tempat menuntut ilmu juga jadi ajang perkenalan, persahabatan, kelompok, genk, atau kisah kasih (yang ini banyak tuh yang Cinlok). Bagaimana dengan guru? Pengalaman selama 20 tahun menjadi guru membuat tafsiran tentang GURU GALAK berubah. Dulu waktu sekolah saya sebel kalau ada guru yang galak atau sok galak biar jaga imej.
Kini setelah jadi guru, kata siswa, saya ini termasuk guru galak. Nah loh! imeg galak bukan saya ciptakan, kebiasaan saja bila sudah mulai jam pelajaran saya tidak mau diganggu dengan bunyi ketukan pintu. Apalagi yang mengetuk siswa yang terlambat masuk kelas. Nah yang satu ini tidak akan saya biarkan melenggang masuk tanpa sanksi dari saya. Biasanya saya cukup menyuruh mereka untuk menunggu di luar hingga 1 jam pelajaran berganti. Hukuman itu manjur untuk siswa yang menurut, bagaimana dengan siswa yang tidak menurut.Ada juga siswa saya yang malah kabur ke kantin bila saya suruh menunggu di depan pintu kelas. Tanpa merasa bersalah mereka malah jadi ada alasan untuk sarapan atau sekedar nongkrong di kantin.Untuk siswa semacam ini saya biasanya akan mempersilakan mereka mengambil tempat tepat di depan pintu menghadap kelas dengan pengawasan saya. Udara yang panas dan jadi tontonan jadi sanksi buat mereka.
Seiring berjalannya waktu hukuman tersebut ternyata sudah dihafal siswa, mereka jadi senang bisa santai tanpa di depan kelas dan jadi arena tebar pesona pada adik kelas yang kebetulan hendak ke kamar kecil. Namun, kata siswa kalau tidak mengikuti pelajaran dari saya rugi banget (GR yah tapi nyata kok) jarang siswa yang mau membolos kalau ada pelajaran saya.
Ternyata tidak semua guru galak jadi bahan gunjingan dan tempat menakutkan bagi anak. Terbukti, ketika suatu hari seorang rekan guru ulang tahun, siswa yang sudah tidak ia ajar masih mengingatnya dan merayakan ulang tahunnya dengan special dan penuh kejutan.Padahal kata siswa satu sekolah bahkan alumni mengatakan guru paling galak yah ibu tadi.Galak atau tidak tergantung mereka menyikapi, karena galaknya seorang guru hanya menerapkan disiplin untuk kegiatan belajar yang kondusif.
Kalau saya galak tentu tak ada kesan yang tertanam dimemori siswa ketika ia meninggalkan sekolah dan bertempur dengan lingkungan sosial yang menuntut kedisiplinan bahkan etos kerja yang mumpuni. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menorehkan kenangan bagi siswa. Kadang kenangan yang menyakitkan bagi guru justru kenangan indah bagi siswa. Ini saya alami ketika perayaan hari kemerdekaan ada lomba untuk guru memukul kendi, dengan mata tertutup dan tubuh diputar-putar dengan beberapa guru kami berlomba memukul kendi yang di depan. saya kira siswa membimbing langkah saya ternyata hanya saya yang berlomba semua rekan guru sudah duduk dengan manisnya. Perasaan malu sakit hati dengan panitia siswa bergejolak dalam diri saya. Saat itu juga dengan rasa marah dan secuil dendam saya ingat satu persatu panitia Osis (saya tidak mengajar mereka).
Setelah mereka menjadi alumni ternyata kenangan yang membuat saya sakit hati justru merupakan kenangan manis mereka , katanya “Bu Seni menjadikan acara meriah dan menyenangkan!”. Coba bayangkan ternyata saya membuat kenangan manis di hati mereka. Saat itu juga saya sadari saya harus sabar dengan permainan dan siswa karena toh mereka masih anak-anak.
Kini usia saya semakin bertambah predikat guru galak mungkin bukan di pundak saya lagi. Karena datang guru-guru muda yang ingin dihormati siswa dan berpendirian keras (ingat saya dulu ketika masih muda). Siswa bagi saya kin adalah pendamping untuk merangkai kisah manis selama masa remaja mereka di tempat yang kata orang untuk menuntut ilmu. Apa yang menjadi trend, saya berusaha untuk masuk dan tahu. Menjadikan siswa dekat dengan kita sebagai pendamping memudahkan mereka dan juga saya untuk mencari tahu mau apa mereka.